Asyiknya Jadi Waitress


 




Beberapa lalu tidak kebayang deh untuk jadi waitress, seperti tidak kebayangnya akan jadi pramugari alias ogah sekali. Tapi saat kuliah di NZ rupanya jadi waitress adalah pekerjaan ‘idaman' untuk beberapa mahasiswi. Berkali-kali rekan-rekan bertanya info lowongan kerja di restaurant yang bisa dilaksanakan di luar jam kuliah. Bukan mereka yang membutuhkan dana penambahan, tetapi malah antara mereka ada yang turunan konglomerat populer di Indonesia. So what gituh???!! Saya termasuk juga yang penting dana penambahan. Ya dana penambahan untuk ‘nge-bet' di casino.


Tentang Website Judi Slot Bersertifikat


Beberapa waktu akhir-akhir ini saya serta Mr.Di adalah pencinta dunia kuliner. Memang tidak cuma kami warga Indonesia yang menyukai dunia kuliner, ditambah lagi rekreasi kuliner sekarang ini tengah hip sekali! Yang memperbedakan kami dengan fans dunia kuliner yang lain (mungkin) ialah kami berdua ialah "pensiunan" waiter serta waitress. Disamping itu kami mempunyai latar belakang di dunia ini. Mr Di itu khan alumnus Food and Beverage dari akademi pariwisata serta perhotelan Jogjakarta, salah satunya kota rekreasi yang gaungnya tembus seluruh dunia. Pengalaman kerja di sejumlah hospitality industry di Jakarta – Jogjakarta and Menado. Sedang saya, kecuali sempat kerja di sejumlah hotel di Jakarta, jadi waitress – cashier and kitchenhand beberapa resto di Auckland. Dengan cara seh yang paling akhir hanya kuat beberapa waktu !


Nah berdasar itu semua kami berdua sempat berdiskusi kecil tentang service resto yang kami datangi. Diantaranya : Disuatu resto kami pesan 2 pizza. Saya telah wanti-wanti dengan benar-benar jika pizza yang kami pesan tidak dikasih sosis atau daging asap, serta waitress-nya mengulang-ulang pesanan saya itu. Tetapi demikian pizza tiba, rupanya ada sosisnya. Jelas saya menampik! Saya meminta tukar, tapi Mr Di nampak ‘kasihan' dengan waitress itu. Ia menjelaskan jika waitress itu tentu diharap mengubah pizza itu dengan uangnya, serta saya menjelaskan itu risiko pekerjaan yang perlu ia tanggung sebab semestinya ia memprioritaskan tamu pengunjung resto itu.


Saya sebutkan jika semasa saya jadi waitress di NZ pemilik resto atau manajer resto tetap mengutamakan service serta menomor satu-kan tamu alias konsumen. Meja yang masih tetap amburadul atau gelas yang masih tetap kotor "tak perlu diurusi" bila kita lihat pengunjung resto membutuhkan pertolongan kita. Tidak sama dengan resto yang berada di Indonesia, tamu sudah berteriak kepedasan meminta minum eh petugas resto justru "asyik" ngelap-ngelap meja yang tidak "berpenghuni".


Demikian juga dalam kedisiplinan pengadaan makanan. Sering daku ingin ngakak jika pesan sop atau makanan pembuka dengan main menu tapi yang disajikan terlebih dulu ialah makanan penting selanjutnya soup atau makanan pembuka-nya ada beberapa waktu sesudah kita melahap makanan intinya. Disamping itu seringkali saya makan di resto yang menyajikan makanan penting (lauk) tapi nasi-nya tidak disajikan beberapa lama. Jika di dalam rumah makan yang tidak meningkatkan ‘service tax' pada harga sich masih dimaklumi, tetapi jika itu berlangsung di resto yang ‘berstandard' serta terima waitress-nya dengan ketentuan minimum D3 Perhotelan/Pariwisata???? Duuuuhhh....nilai ‘Table Manner'-nya apa seh waktu kuliah? Tapiiiii mungkin memang ini rutinitas makan beberapa pengunjung resto-nya ya? Jika di hotel berbintang sich sudah terstandard, hingga saya tak perlu melongo disajikan ice krim atau tiramisu bersamaan dengan chicken soup...hehehe....


Resto Tempat Saya Kerja


Balik lagi tentang resto tempat saya kerja jadi waitress.


Pertama-tama saya kerja di Istana Malaysian Restaurant. Masih culun sekali deh! Sok percaya diri! Saat itu ngegampangin sekali kerja jadi waitress...hehehe...Lah walau sebenarnya ‘dresscode' saja salah. Saya sempat tiba ke tempat kerja menggunakan kaos tanpa ada kerah. Khan saat itu manager-nya menjelaskan jika baju yang perlu dikenai ialah atasan hitam serta bawahan hitam. Eh saya gunakan saja kaos Esprit putih. Terkena peringatan, tetapi yang menyapa salah satunya karyawati Indonesia yang telah lama kerja dari sana. Deeeuuuh, tidak perduli tuch kaos merek-nya Esprit asli membeli langsung di butiknya tetapi masih saja


Restaurant kedua ialah Kampung Baru Halal Malaysian Restaurant. Di sini saya kerja paling lama. Beberapa hal yang saya dalami di restaurant ini, serta tentu saja banyak pengalaman yang saya peroleh. Dulu resto ini adalah salah satu resto yang mempunyai sertifikat halal untuk makanannya. Jika minuman sich masih sediakan wine, komplet dengan minibar-nya. Pekerjaan membikinkan minum ialah Pekerjaan Hiromi, sama-sama waitress asal Jepang. Seperti lazim-nya wanita dewasa Jepang Hiromi benar-benar pahami sangkut-paut minuman mengandung alkohol. Sedang bila ada tamu asal Malaysia yang pesan ‘Teh Tarik' karena itu kami berdua langsung "tuding2an" untuk membuatkannya. Hahaha....sehubungan kami berdua bukan datang dari Malaysia – jadi kurang pahami pembagian pengerjaan ‘Teh Tarik' yang cocok mantap.


Restaurant kami sering didatangi oleh kru Malaysian Airlines serta Singapore Airlines. Weeeeleeeh....mereka yang terlatih layani kesempatan ini malah kami yang layani. Jika kru SQ benar-benar pahami kami, khususnya pramugara-nya yang berbaik hati menolong saya yang kerepotan makanan hotplate yang masih tetap meletup-letup. Serta mereka sempat menolong saya mengendalikan meja serta bangku sebab mereka tiba berombongan tanpa ada revervasi terlebih dulu. Saya-pun secara lembut tidak memperbolehkan mereka mengusung2 bangku walaupun tubuh mereka tinggi besar serta kekar. Agar bagaimana-pun mereka ialah customer yang perlu dilayani secara baik. Customer ialah raja.


Saya sempat juga layani mentri dari Malaysia. Sumpah dah, awalannya saya tidak pahami bila beliau ialah mentri di negaranya, malah saat staff serta manajer saya terlibat perbincangan – bincang dengannya dan menjelaskannya pada saya karena itu baru saya pahami jika beliau ialah pejabat di Malaysia. Tapi tetap saya melayani-nya seperti customer yang lain. Manajer resto yang India Malaysia ialah orang yang adil dalam memperlakukan seseorang, meskipun orang yang belum mengenalinya tentu menganggap galak.


Popular posts from this blog

Prada contacted Hollywood heavyweights Jeff Goldblum as well as Kyle MacLachlan

Invite for your sensory transformation, many thanks to the pandemic

Can making use of open-source details on-line acquire you detained for overseas obstruction?